Computer Articles And Tutorial

Keterampilan Proses



Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan- keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan- kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri siswa (DEPDIKBUD, dalam Moedjiono, 1992/ 1993 : 14)

Menurut Semiawan, dkk (Nasution, 2007 : 1.9-1.10) menyatakan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan- kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.


Dimyati dan Mudjiono (Sumantri, 1998/1999: 113) mengungkapkan bahwa pendekatan keterampilan proses bukanlah tindakan instruksional yang berada diluar jangkauan kemampuan peserta didik. Pendekatan ini justru bermaksud mengembangkan kemampuan- kamapuan yang dimiliki peserta didik.


Jadi keterampilan proses dasar merupakan suatu fondasi untuk melatih keterampilan proses terpadu yang lebih kompleks. Seluruh keterampilan proses ini diperlukan pada saat berupaya untuk mencatatkan masalah ilmiah.


B. Jenis- Jenis Pendekatan Keterampilan Proses Dasar


Khusus untuk keterampilan proses dasar, proses- prosesnya meliputi keterampilan mengobservasi, mengklasifikasi, mengobservasi, mengklasifikasikan, mengukur, mengkomunikasikan, menginferensi, memprediksi, mengenal hubungan ruang dan waktu, serta mengenal hubungan- hubungan angka.


1. Keterampilan pengamatan (observasi)


Keterampilan mengobservasi menurut Esler dan Esler (1984) adalah keterampilan yang dikembangkan dengan menggunakan semua indera yang kita miliki untuk mengidentifikasi dan memberikan nama sifat- sifat dari objek- objek atau kejadian- kejadian. Definisi serupa disampaikan oleh Abruscato (1988) yang menyatakan bahwa mengobservasi artinya mengunakan segenap panca indera untuk memperoleh imformasi atau data mengenai benda atau kejadian. (Nasution, 2007: 1.8- 1.9)


Kegiatan yang dapat dilakukan yang berkaitan dengan kegiatan mengobservasi misalnya menjelaskan sifat- sifat yang dimiliki oleh benda- benda, sistem- sistem, dan organisme hidup. Sifat yang dimiliki ini dapat berupa tekstur, warna, bau, bentuk ukuran, dan lain- lain. Contoh yang lebih konkret, seorang guru sering membuka pelajaran dengan menggunakan kalimat tanya seperti apa yang engkau lihat ? atau bagaimana rasa, bau, bentuk, atau tekstur…? Atau mungkin guru menyuruh siswa untuk menjelaskan suatu kejadian secara menyeluruh sebagai pendahuluan dari suatu diskusi.


2. Keterampilan Mengklasifikasi (klasifying)


Keterampilan mengklasifikasi menurut Esler merupakan ketermpilan yang dikembangkan melalui latihan- latihan mengkategorikan benda- benda berdasarkan sifat- sifat benda tersebut. Menurut Abruscato mengkalsifikasi merupakan proses yang digunakan para ilmuan untuk menentukan golongan benda- benda atau kegaitan- kegiatan. (Nasution, 2007 : 1.15)


Bentuk- bentuk yang dapat dilakukan untuk melatih keterampilan ini misalnya memilih bentuk- bentuk kertas, yang berbentuk kubus, gambar- gambar hewan, daun- daun, atau kancing- kancing berdasarkan sifat- sifat benda tersebut. Sistem- sistem klasifikasi berbagai tingkatan dapat dibentuk dari gambar- gambar hewan dan tumbuhan (yang digunting dari majalah) dan menempelkannya pada papan buletin sekolah atau papan panjang di kelas.


Contoh kegiatan yang lain adalah dengan menugaskan siswa untuk membangun skema klasifikasi sederhana dan menggunakannya untuk kalsifikasi organisme- organisme dari carta yang diperlihatkan oleh guru, atau yang ada didalam kelas, atau gambar tumbuh- tumbuhan dan hewan- hewan yang dibawa murid sebagai sumber klasifikasi










3. Keterampilan Mengukur (measuring)


Keterampilan mengukur menurut Esler dan Esler dapat dikembangkan melalui kegiatan- kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan satuan- satuan yang cocok dari ukuran panjang, luas, isi, waktu, berat, dan sebagainya. Abruscato menyatakan bahwa mengukur adalah suatu cara yang kita lakukan untuk mengukur observasi. Sedangkan menurut Carin, mengukur adalah membuat observasi kuantitatif dengan membandingkannya terhadap standar yang kovensional atau standar non konvensional. (Nasution, 2007 : 1.20)


Keterampilan dalam mengukur memerlukan kemampuan untuk menggunakan alat ukur secara benar dan kemampuan untuk menerapkan cara perhitungan dengan menggunakan alat- alat ukur. Langkah pertama proses mengukur lebih menekankan pada pertimbangan dan pemilihan instrumen (alat) ukur yang tepat untuk digunakan dan menentukan perkiraan sautu objek tertentu sebelum melakukan pengukuran dengan suatu alat ukur untuk mendapatkan ukuran yang tepat.


Untuk melakukan latihan pengukuran, bisa menggunakan alat ukur yang dibuat sendiri atau dikembangkan dari benda- benda yang ada disekitar. Sedangkan pada tahap selanjutnya, menggunakan alat ukur yang telah baku digunakan sebagai alat ukur. Sebagai contoh, dalam pengukuran jarak, bisa menggunakan potongan kayu, benang, ukuran tangan, atau kaki sebagai satuan ukurnya. Sedangkan dalam pengukuran isi, bisa menggunakan biji- bijian atau kancing yang akan dimasukkan untuk mengisi benda yang akan diukur.


Contoh kegiatan mengukur dengan alat ukur standar/ baku adalah siswa memperkirakan dimensi linear dari benda- benda (misalnya yang ada di dalam kelas) dengan menggunkan satuan centi meter (cm), dekameter (dm), atau meter (m). Kemudian siswa dapat menggunakan meteran (alat ukur, mistar atau penggaris) untuk pengukuran benda sebenarnya.


4. Keterampilan Mengkomunikasikan (communication)


Menurut Abruscato (Nasution, 2007: 1.44 ) mengkomunikasikan adalah menyampaikan hasil pengamatan yang berhasil dikumpulkan atau menyampaikan hasil penyelidikan. Menurut Esler dan Esler ((Nasution, 2007: 1.44) dapat dikembangkan dengan menghimpun informasi dari grafik atau gambar yang menjelaskan benda- benda serta kejadain- kejadian secara rinci.


Kegiatan untuk keterampilan ini dapat berupa kegiatan membaut dan menginterpretasi informasi dari grafik, charta, peta, gambar, dan lain- lain. Misalnya siswa mengembangkan keterampilan mengkomunikasikan deskripsi benda- benda dan kejadian tertentu secar rinci. Siswa diminta untuk mengamati dan mendeskrifsikan beberapa jenis hewan- hewan kecil ( seperti ukuran, bentuk, warna, tekstur, dan cara geraknya), kemudain siswa tersebut menjelaskan deskrifsi tentang objek yang diamati didepan kelas.


5. Keterampilan Menyimpulkan (inferensi)


Keterampilan menginferensi menurut Esler dan Esler dapat dikatakan juga sebagai keterampilan membuat kesimpulan sementara. Menurut Abruscato , menginferensi/ menduga/ menyimpulakan secara sementara adalah adalah menggunakan logika untuk memebuat kesimpulan dari apa yang di observasi( Nasution, 2007 : 1.49)


Contoh kegiatan untuk mengembangkan keterampilan ini adalah dengan menggunakan suatu benda yang dibungkus sehingga siswa pada mulanya tidak tahu apa benda tersebut. Siswa kemudian mengguncang- guncang bungkusan yang berisi benda itu, kemudian menciumnya dan menduganya apa yang ada di dalam bungkusan ini. Dari kegiatan ini, siswa akan belajar bahwa akan muncul lebih dari satu jenis inferensi yang dibuat untuk menjelaskan suatu hasil observasi. Disamping itu juga belajar bahwa inferensi dapat diperbaiki begitu hasil observasi dibuat.


6. Keterampilan Meramalkan (prediksi)


Memprediksi adalah meramal secara khusus tentangapa yang akan terjadi pada observasi yang akan datang (Abruscato Nasution, 2007 : 1.55) atau membuat perkiraan kejadian atau keadaan yang akan datang yang diharapkan akan terjadi (Carin, 1992). Keterampilan memprediksi menurut Esler dan Esler adalah keterampilan memperkirakan kejadian yang akan datang berdasarkan dari kejadian- kejadian yang terjadi sekarang, keterampialn menggunakna grafik untuk menyisipkan dan meramalkan terkaan- terkaan atau dugaan- dugaan. (Nasution, 2007 : 1.55)


Jadi dapat dikatakan bahwa memprediksi sebagai menyatakan dugaan beberapa kejadian mendatang atas dasar suatu kejadian yang telah diketahui Contoh kegiatan untuk melatih kegiatan ini adalah memprediksi berapa lama (dalam menit, atau detik) lilin yang menyala akan tetap menyala jika kemudian ditutup dengan toples (dalam berbagai ukuran) yang ditelungkupkan.


7. Keterampilan Mengenal Hubungan Ruang dan Waktu


Keterampilan mengenal hubungan ruang dan waktu menurut Esler dan Esler meliputi keterampilan menjelaskan posisi suatu benda terhadap lainnya atau terhadap waktu atau keterampilan megnubah bentuk dan posisi suatu benda setelah beberapa waktu. Sedangkan menurut Abruscato menggunakan hubungan ruang- waktu merupakan keterampilan proses yan gberkaitan dengan penjelasan- penjelasan hubungan- hubunagn tentang ruang dan waktu beserta perubahan waktu.


Untuk membantu mengembangkan pengertian siswa terhadap hubungan waktu- ruang, seorang guru dapat memberikan pelajaran tentang pengenalan dan persamaan bentuk- bentuk dua dimensi (seperti kubus, prisma, elips). Seorang guru dapat menyuruh sisiwa menjelaskan posisinya terhadap sesuatu, misalnya seorang siswa dapat menyatakan bahwa ia berada ia berada di baridsan ketiga bangku kedua dari kiri gurunya.


8. Keterampilan Mengenal Hubungan Bilangan- bilangan


Keterampilan mengenal hubungan bilangan- bilangan menurut Esler dan Esler meliputi kegaitan menemukan hubungan kuantitatif diantara data dan menggunakan garis biangan untuk membuat operasi aritmatika (matematika). Carin mengemukakan bahwa menggunakan angka adalah mengaplikasikan aturan- aturan atau rumus- ruumus matematik untuk menghitung jumlah atau menentukan hubungan dari pengukuran dasar. Menurut Abruscato, menggunakan bilangan merupakan salah satu kemampuan dasar pada keterampilan proses.( Nasution, 2007: 1.61- 1.62).


Kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan ini adalah menentukan nilai pi dengan mengukur suatu rangkaian silinder, menggunakan garis bilangan untuk operasi penambahan dan perkalian. Latihan- latihan yang mengharuskan siswa untuk mengurutkan dan membandingkan benda- benda atau data berdasarkan faktor numerik membantu untuk mengembangkan keterampilan ini. contoh pertanyaan yang membantu siswa agar mengerti tentang hubungan bilangan antara lain adalah : “ lebih jauh mana benda A jika dibandingkan dengan benda B?” “ Berapa derajat suhu tersebut turun dari – 100 C ke – 200 C ? ”






C. Kesimpulan


Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan- keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan- kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri siswa (DEPDIKBUD, dalam Moedjiono, 1992/ 1993 : 14)


Keterampilan proses dasar, meliputi keterampilan mengobservasi, mengklasifikasi, mengobservasi, mengklasifikasikan, mengukur, mengkomunikasikan, menginferensi, memprediksi, mengenal hubungan ruang dan waktu, serta mengenal hubungan- hubungan angka.


DAFTAR PUSTAKA


Nasution, Noehi, dkk.2007. Pendidikan IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka


Moedjiono dan Moh. Dimyati. 1992/ 1993. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: DEPDIKBUD


Sumantri, Mulyani dan Johar Permana.1998/ 1999. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: DEPDIKBUD









Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang dianugerahi sejumlah potensi agar dapat melaksanakan perannya sebagai Abdillah dan khalifatullah di muka bumi. Potensi yang paling menonjol adalah diberikannya akal pikiran dan pancaindra sehingga manusia mampu merencanakan dan melaksanakan sejumlah penyelidikan ilmiah.


Para saintis mempelajari gejala IPA. termasuk biologi melalui proses dan sikap ilmiah tertentu. Proses itu misalnya melalui eksperimen, sedangkan sikap ilmiah misalnya objektif dan jujur pada saat sedang mengumpulkan dan menganalisis data.


Dengan menggunakan proses dan sikap ilmiah itu, saintis memperoleh penemuan-penemuan yang dapat berupa fakta atau teori dan penemuan itulah yang disebut produk IPA. Dengan demikian secara garis besar komponen IPA terdiri atas tiga yaitu (i) proses ilmiah atau keterampilan proses, (ii) sikap ilmiah, dan (iii) produk ilmiah). Dengan demikian metode ilmiah atau kerja ilmiah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam mempelajari IPA. Pembelajaran IPA terbatas pada produk atau fakta, konsep dan teori saja belum lengkap, karena baru menyentuh salah satu komponennya saja.


Keterampilan proses dasar merupakan fundasi untuk melatih keterampilan proses terpadu yang lebih kompleks. Ada enam keterampilan proses dasar yaitu pengamatan, pengukuran, klasifikasi, komunikasi, prediksi dan inferensi. Keterampilan proses terpadu khususnya diperlukan apabila seseorang melakukan eksperimen


2


untuk memecahkan masalah. Keterampilan proses terpadu terdiri atas identifikasi variabel, pengontrolan variabel, interpretasi data, perumusan hipotesis, perumusan definisi operasional variabel, perencanaan dan pelaksanaan eksperimen.


Sains merupakan hasil usaha manusia untuk mengkatego- risasikan, mengkorelasikan dan menerangkan pengamatan- pengamatannya tentang lingkungan fisik dan biologinya. Tiap konsep harus dianggap sebagai pernyataan sementara, yang berguna dalam arti dapat meramalkan kejadian-kejadian di masa depan, menimbulkan


pertanyaan-pertanyaan


lebih


lanjut,


sambil memberikan arah untuk membuat pengamatan-pengamatan yang lebih banyak. Usaha-usaha tersebut dilakukan dengan sikap ilmiah yang tinggi (objektif, sistematis, kritis, analitis, tekun, dan disiplin) dan pada akhirnya melahirkan ilmu pengetahuan baru (produk Ilmiah).





Proses ilmiah merupakan aspek yang tidak terpisahkan dari IPA, termasuk biologi. Objek kajian IPA adalah alam semesta yang mampu dindra oleh panca indra, sebab itu kajian IPA bersifat konkrit. misalnya ketika mempelajari konsep serangga seharusnya dipelajari secara langsung pada objeknya. Konsep serangga merupakan konsep abstrak, tetapi objeknya konkrit seperti kupu-kupu, semut, dan belalang. Dari pengamatan visual terhadap bagian-bagian tubuh serangga,


diharapkan orang yang mempelajarinya menemukan keteraturan berupa kesamaan ciri-ciri tertentu sehingga semua jenis hewan yang diamati dapat dimasukkan sebagai serangga. Contoh


3


lain adalah pada saat mempelajari konsep tentang hidup dan ciri-ciri makhluk hidup. Untuk memahaminya diperlukan kegiatan-kegiatan berupa pengamatan atau


percobaan dan menganalisis hasil


percobaannya.


Tujuan mata pelajaran IPA dicapai oleh peserta didik melalui berbagai pendekatan, antara lain pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri ilmiah pada tataran inkuiri terbuka. Proses inkuiri ilmiah bertujuan menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.


Pengembangan keterampilan proses siswa dapat dilatihkan melalui suatu kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan teori-teori dengan keterampilan intelektual dan sikap ilmiah siswa sendiri. Siswa diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan- kegiatan ilmiah seperti yang dikerjakan para ilmuwan, tetapi pendekatan keterampilan proses tidak bermaksud menjadikan setiap siswa menjadi ilmuwan. Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dilaksanakan dengan maksud karena IPA merupakan alat yang potensial untuk membantu mengembangkan kepribadian siswa. Kepribadian yang berkembang merupakan prasyarat untuk melangkah ke profesi apapun yang diminati siswa


4


1. Observasi (Pengamatan)


Pengamatan merupakan proses paling dasar dari IPA. Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan panca indera, yaitu indera penglihat, indera peraba, indera pengecap, indera pembau, dan indera pendengar. Pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang objek-objek dan gejala-gejala alam, misalnya mengamati jenis-jenis hewan atau tumbuhan di suatu habitat tertentu. Pengamatan hendaknya dilakukan dengan terencana dan sistematis, dan bukan secara kebetulan. Selama pengamatan berlangsung diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan yang sebenarnya tanpa usaha yang disengaja untuk mempengaruhi, mengatur atau memanipulasinya.


Pengamatan hendaknya dilakukan menurut kenyataan, melukiskannya dengan kata-kata secara cermat dan tepat terhadap objek atau gejala yang diamati, mencatatnya dan kemudian mengolahnya. Dalam IPA Biologi, banyak hal yang dapat kita amati, misalnya mengamati bentuk-bentuk morfologi daun, mengamati bentuk kaki pada unggas, mengamati jumlah perhiasan bunga pada sebuah bunga atau mengamati saling ketergantungan makhluk hidup dalam sebuah ekosistem. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu pengamatan, yaitu:


o


Harus diketahui kapan dan dimana pengamatan itu dilakukan, misalnya apakah pengamatan itu hanya dilakukan pada waktu dan tempat tertentu saja atau apakah keadaan lingkungannya sama atau berbeda.


4


1. Observasi (Pengamatan)


Pengamatan merupakan proses paling dasar dari IPA. Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan panca indera, yaitu indera penglihat, indera peraba, indera pengecap, indera pembau, dan indera pendengar. Pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang objek-objek dan gejala-gejala alam, misalnya mengamati jenis-jenis hewan atau tumbuhan di suatu habitat tertentu. Pengamatan hendaknya dilakukan dengan terencana dan sistematis, dan bukan secara kebetulan. Selama pengamatan berlangsung diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan yang sebenarnya tanpa usaha yang disengaja untuk mempengaruhi, mengatur atau memanipulasinya.


Pengamatan hendaknya dilakukan menurut kenyataan, melukiskannya dengan kata-kata secara cermat dan tepat terhadap objek atau gejala yang diamati, mencatatnya dan kemudian mengolahnya. Dalam IPA Biologi, banyak hal yang dapat kita amati, misalnya mengamati bentuk-bentuk morfologi daun, mengamati bentuk kaki pada unggas, mengamati jumlah perhiasan bunga pada sebuah bunga atau mengamati saling ketergantungan makhluk hidup dalam sebuah ekosistem. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu pengamatan, yaitu:


o


Harus diketahui kapan dan dimana pengamatan itu dilakukan, misalnya apakah pengamatan itu hanya dilakukan pada waktu dan tempat tertentu saja atau apakah keadaan lingkungannya sama atau berbeda.


5


o


Harus ditentukan objek yang diamati, misalnya mengamati bentuk morfologi daun, mengamati jumlah daun, mengamati bentuk kaki pada unggas.


o


Harus diketahui secara jelas data apa yang harus dikumpulkan


dan relevan dengan tujuan pengamatan.


o


Harus diketahui bagaimana cara mengumpulkan data pengamatan, misalnya untuk mengamati data tinggi tanaman digunakan mistar atau meteran.


o


Harus diketahui tentang cara mencatat hasil pengamatan


Bentuk, warna dan ukuran dapat dibedakan dengan menggunakan indera penglihat, tekstur dengan indera peraba, bau dengan indera pembau, suara dengan indera pendengar, rasa manis, pahit, asin dan asam dengan indera pengecap. Pengamatan yang dilakukan hanya dengan menggunakan indera tanpa mengacu kepada satuan pengukuran baku tertentu disebut pengamatan kualitatif, dan datanya adalah data kualitatif. Pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang mengacu kepada satuan pengukuran baku tertentu disebut pengamatan kuantitatif, dan datanya berupa data kuantitatif. Beberapa alat bantu yang dapat digunakan pada saat melakukan pengamatan antara lain mikroskop, meteran, mistar, termometer, higrometer, dan necara.


5


o


Harus ditentukan objek yang diamati, misalnya mengamati bentuk morfologi daun, mengamati jumlah daun, mengamati bentuk kaki pada unggas.


o


Harus diketahui secara jelas data apa yang harus dikumpulkan


dan relevan dengan tujuan pengamatan.


o


Harus diketahui bagaimana cara mengumpulkan data pengamatan, misalnya untuk mengamati data tinggi tanaman digunakan mistar atau meteran.


o


Harus diketahui tentang cara mencatat hasil pengamatan


Bentuk, warna dan ukuran dapat dibedakan dengan menggunakan indera penglihat, tekstur dengan indera peraba, bau dengan indera pembau, suara dengan indera pendengar, rasa manis, pahit, asin dan asam dengan indera pengecap. Pengamatan yang dilakukan hanya dengan menggunakan indera tanpa mengacu kepada satuan pengukuran baku tertentu disebut pengamatan kualitatif, dan datanya adalah data kualitatif. Pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang mengacu kepada satuan pengukuran baku tertentu disebut pengamatan kuantitatif, dan datanya berupa data kuantitatif. Beberapa alat bantu yang dapat digunakan pada saat melakukan pengamatan antara lain mikroskop, meteran, mistar, termometer, higrometer, dan necara.





6


Gambar 1. Pengamatan dengan mikroskop


Hasil pengamatan dapat dibuat dalam bentuk gambar, bagan, tabel dan grafik. Beberapa perilaku yang dapat dikerjakan pada saat pengamatan, yaitu:


o


Penggunaan indera-indera, bukan hanya penglihatan.


o


Pengorganisasian objek-objek menurut satu sifat tertentu.


o


Pengidentifikasian banyak sifat.


o


Pengidentifikasian perubahan-perubahan dalam suatu objek.


o


Melakukan pengamatan kuantitatif (Contoh “ 5 kilogram”


bukan berat)


o


Melakukan pengamatan kualitatif (Contoh: “Baunya seperti


susu asam”, bukan berbau).


Agar hasil pengamatan dapat dikomunikasikan secara efektif, maka dalam mendeskripsi sifat dari suatu objek hendaknya memilih sifat-sifat yang sesuai sehingga objek tersebut, dapat diidentifikasi dan dikomunikasikan tanpa ada keraguan. Ada empat panduan yang dapat dilakukan untuk mendeskripsi suatu objek secara efektif, yaitu:


o


Deskripsikanlah hanya apa yang dapat diamati





6


Gambar 1. Pengamatan dengan mikroskop


Hasil pengamatan dapat dibuat dalam bentuk gambar, bagan, tabel dan grafik. Beberapa perilaku yang dapat dikerjakan pada saat pengamatan, yaitu:


o


Penggunaan indera-indera, bukan hanya penglihatan.


o


Pengorganisasian objek-objek menurut satu sifat tertentu.


o


Pengidentifikasian banyak sifat.


o


Pengidentifikasian perubahan-perubahan dalam suatu objek.


o


Melakukan pengamatan kuantitatif (Contoh “ 5 kilogram”


bukan berat)


o


Melakukan pengamatan kualitatif (Contoh: “Baunya seperti


susu asam”, bukan berbau).


Agar hasil pengamatan dapat dikomunikasikan secara efektif, maka dalam mendeskripsi sifat dari suatu objek hendaknya memilih sifat-sifat yang sesuai sehingga objek tersebut, dapat diidentifikasi dan dikomunikasikan tanpa ada keraguan. Ada empat panduan yang dapat dilakukan untuk mendeskripsi suatu objek secara efektif, yaitu:


o


Deskripsikanlah hanya apa yang dapat diamati





7


o


Buatlah deskripsi yang singkat


o


Gunakanlah bahasa yang tepat dan akurat


o


Hanya menuliskan deskripsi hasil pengamatan, dan bukan


inferensi atas hasil pengamatan.


Contoh hasil pengamatan dalam bentuk tabel


Tabel 1. Berat (g) biji jagung setelah direndam di dalam air.


No


Waktu (menit)


Berat (g)


1


5


1,00


2


10


1,25


3


15


1,50


Contoh hasil pengamatan dalam bentuk gambar


Gambar 2. Sel-sel epidermis bawang merah.


Contoh hasil pengamatan dalam bentuk bagan





7


o


Buatlah deskripsi yang singkat


o


Gunakanlah bahasa yang tepat dan akurat


o


Hanya menuliskan deskripsi hasil pengamatan, dan bukan


inferensi atas hasil pengamatan.


Contoh hasil pengamatan dalam bentuk tabel


Tabel 1. Berat (g) biji jagung setelah direndam di dalam air.


No


Waktu (menit)


Berat (g)


1


5


1,00


2


10


1,25


3


15


1,50


Contoh hasil pengamatan dalam bentuk gambar


Gambar 2. Sel-sel epidermis bawang merah.


Contoh hasil pengamatan dalam bentuk bagan





8


Gambar 3. Siklus hidup kupu-kupu


Contoh hasil pengamatan dalam bentuk grafik






























































Gambar 4. Tinggi tanaman jagung


2. Inferensi





8


Gambar 3. Siklus hidup kupu-kupu


Contoh hasil pengamatan dalam bentuk grafik






























































Gambar 4. Tinggi tanaman jagung


2. Inferensi





9


Inferensi merupakan pernyataan yang didasarkan atas berbagai informasi atau fakta. Para ilmuan melakukan inferensi berdasarkan hasil observasi. Inferensi adalah sebuah pernyataan yang dibuat berdasarkan fakta hasil observasi. Seseorang dikatakan mampu melakukan inferensi bila ia dapat :


o


Membedakan antara observasi dan inferensi


o


Melakukan inferensi berdasarkan hasil observasi.


Penginferensian yaitu penggunaan apa yang Anda amati untuk menjelaskan sesuatu yang telah terjadi. Penginfrensian berlangsung melampaui suatu pengamatan untuk menafsirkan apa yang telah diamati. Sebagai contoh, anda melihat suatu tumbuhan yang daunnya terpotong-potong dan di dekat tumbuhan tersebut terdapat jejak dan tahi kambing. Suatu inferensi yang mungkin diajukan, yaitu tumbuhan tersebut dimakan oleh kambing. Beberapa prilaku yang dapat dikerjakan pada saat penginferensian, yaitu:


o


Mengkaitkan pengamatan dengan pengalaman atau


pengetahuan terdahulu.


o


Mengajukan penjelasan-penjelasan untuk pengematan- peng-


amatan.


Responses

0 Respones to "Keterampilan Proses"

Poskan Komentar